Total Tayangan Halaman
Rabu, 07 September 2011
Selasa, 30 Agustus 2011
HIDUP
by : A. Ilham Brilian Cendika
Hidup..
Hidup ini bagaikan butiran debu..
Yang tiada pernah statis di tempat..
Terbawa hembusan angin hingga tiada kendali..
Tiada sesuatu yang tak indah dalam kehidupan ini..
Meski semua itu tiada kekal abadi..
Marah, tersenyum, riang gembira, saling dicinta dan mencinta..
Yah, itu lah hidup..
Laksana air yang mengalir, terkadang hidup kita terombang ambing terbawa arus emosi..
Ketika dalam ujian, hidup terasa bagai putaran roda yang berada pada porosnya..
Terkadang ketika diatas, lupa akan bagian telapaknya..
Namun ketika dibawah, ia kan mencoba tuk menengadah, menghadap dan meratapi kepalanya..
Ada kalanya kita menangis sedih, ada kalanya kita tertawa bahagia..
Hidup tidaklah stagnan..
Sebab selalu ada godaan syetan yang mampu mengubah haluan..
Membuat mata tak dapat dijaga, lidah tak dapat dirasa, bahkan tangan pun tak dapat diamankan..
Itu semua ialah ujian untuk menguji seberapa besar kekuatan iman yang dilandasi kepercayaan akan adanya Tuhan..
Namun dibalik semua itu, pasti ada hikmahnya..
Yang tak luput dari diri kita..
Oleh karena itu, perkenankanlah kiranya saya meminta maaf atas perkataan yang tak terjaga, perlakuan yang tak terkendali, dan perasaan yang terpengaruh godaan syetan..
Agar hidup ini terasa lbh indah tnpa dosa dr kslhn2 yg tlah sya perbuat sblmny..
Supaya kelak nanti jika tiba masaQ. Q dpt melangkh ringan tnpa dosa yg bergelimang d pundakQ..
Amiin..
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN..
created by AIBC...
Kamis, 25 Agustus 2011
Bicara Tentang Mimpi
by : A. Ilham Brilian Cendika
Mimpi itu wajar..
Mimpi itu kan indah..
Tak ada salahnya kita bermimpi,
asal jangan bermimpi terus-terusan karena jika bermimpi terus-terusan berarti tidur terus, kalau tidurnya terus-terusan = DEATH..
Sebab tidur itu dianalogikan sebagai orang mati..
Senin, 04 Juli 2011
MASJID AGUNG SUMENEP (MASJID JAMI' SUMENEP)
Menghadap ke Taman Kota, yang berada di sebelah Timurnya. Dengan gerbang besar, pintu kayu kuno, yang berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid Agung Sumenep, yang dulu dikenal dengan nama Masjid Jami’, terletak ditengah-tengah Kota Sumenep.
Masjid ini dibangun setelah pembangunan Kraton Sumenep, sebagai inisiatif dari Adipati Sumenep, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar. Setelah sebelumnya dibangun masjid, yang dikenal dengan nama Masjid Laju, oleh Pangeran Anggadipa (Adipati Sumenep, 1626-1644 M). Dalam perkembangannya, masjid laju tidak mampu lagi menampung jemaah yang kian banyak.
Setelah keraton selesai pembangunannya, Pangeran Natakusuma I memerintahkan arsitek yang juga membangun keraton, Lauw Piango, untuk membangun Masjid Jami’. Berdasar catatan di buku Sejarah Sumenep (2003) diketahui, Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M).
Masjid Jami’ dimulai pembangunannya tahun 1198 H (1779 M) dan selesai pada tahun 1206 H (1787 M). Terhadap masjid ini Pangeran Natakusuma berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 M, bunyinya sebagai berikut;
“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”
Dari tinjauan arsitektural, memang banyak hal yang khas pada bangunan yang menjadi pusat kegiatan masyarakat Islam di kabupaten paling timur Pulau Garam ini. Memperhatikan fisik bangunan, layaknya menganut eklektisme kultur desain.
Masjid Jami’ Sumenep dari bentuk bangunannya bisa dikata merupakan penggabungan berbagai unsur budaya. Mungkin pula sebagai bentuk akomodasi dari budaya yang berkembang di masyarakatnya. Pada masa pembangunannya hidup berbaur berbagai etnis masyarakat yang saling memberikan pengaruh.
Yang menarik lagi, bukan hanya kolaborasi gaya arsitektur lokal. Tetapi lebih luas, yaitu antara arsitektur Arab, Persia, Jawa, India, dan Cina menjadi satu di bangunan yang istimewa ini. Mungkin pula berbagai etnis yang tinggal dan hidup di Madura lebih banyak lagi, sehingga membentuk struktur bangunan lengkap dengan ornamen yang menghias bangunan ini secara keseluruhan.
Kubah kecil di puncak bangunan yang ada di sudut kanan-kiri halaman masjid, sangat mungkin mewakili arsitektur Arab-Persia. Penerapannya tidak semata-mata, terdapat sejumlah modifikasi yang berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Ornamen yang kemudian dipertegas dengan warna-warna menyala, menggambarkan corak bangunan dari Gujarat-Cina. Semakin kental atmosfirnya ketika berada di bagian dalam bangunan utama. Memperhatikan mihrab masjid yang berusia 799 tahun ini, pada mimbar khotbah, hingga ornamen seperti keramik yang menghiasi dindingnya.
Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajuk juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat Jawa.
Struktur bangunan secara keseluruhan menggambarkan tatanan kehidupan masyarakat yang rumit di saat itu. Jalinan hubungan antaretnik yang hidup di Madura dapat disaksikan dari bangunan utuh dari sosok masjid Agung Sumenep ini.
Pada bagian depan, dengan pintu gerbang yang seperti gapura besar, beberapa orang berpendapat juga menampakkan adanya corak kebudayaan Portugis. Konon, masjid Agung Sumenep merupakan salah satu dari sepuluh masjid tertua di Indonesia dengan corak arsitektur yang khas.
Perkembangan Islam di tanah Jawa, pula menjadi bagian dinamika kehidupan masyarakat Madura. Perkembangan ajaran Islam di Pulau Madura, tak dapat dipisahkan dari perkembangan dan pergumulan masyarakat Jawa yang secara gegrafis terpisah dengan Selat Madura. Perkembangan Islam di Ampel dan Giri menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Madura. Pada jamannya, tugas dakwah yang diemban para wali meliputi seluruh daerah, termasuk Jawa dan Madura.
Dalam perkembangan Islam di Madura tak lepas dari para pedagang yang datang dari Gujarat (India) serta para perantau yang berasal dari jazirah Arab. Mereka yang berhasil mendarat di Madura juga memberi kontribusi akibat interaksi, baik budaya maupun tata kehidupan.
Model akulturasi budaya yang ada di masa silam, secara jelas masih bisa dinikmati sekarang. Yaitu dengan melihat kekayaan detil arsitektural yang ada di masjid Jami’ Sumenep. Walaupun pada sekitar tahun 90-an masjid ini mengalami pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya. Namun demikian tidak mengurangi eksotismenya hingga sekarang.-az alim
*Dimuat di Majalah Mossaik, Nopember 2005
Minggu, 29 Mei 2011
Sedikit Tentang Pengalamanku
by : A. Ilham Brilian Cendika
1 hari menjelang ultah, ehmmmmm hati deg2an..
lha malem hari ada sms..
Fardiana : "Jngan lupa bsok latian di skolah jam 8. *kalo telat tiap 5 menit didenda 5rb (berlaku kelipatan)".....busetttt,, udah kaya rentenir aja..
Kiki : "urutan acara......(bla..bla..bla..)" (bahas tugas conversation)
Kiki : "Bsk msuk jam 8. Trus tiap telat 5 mnit d.dnda 5rb (berlaku kelipatan)" (lagi-lagiiii......)
KEESOKAN HARINYA.......
Ewi : "sepupu (maksudnya sepuluh2), tugas mam titik yang ppt bio dikumpulin kamis ya makasih"(tugas lagii..)
Ghora : "Lpo rng?"(malah tanya ngapain)
Farras : "Ini siapa??"(lha kok tiba-tiba tany g jelas)
Kiki : "Ham, km gpp? spdamu gmn?"
Kiki : "Lho? Wes iku gmn? Ban.e sido bcor.? Aq kpikiran gr2 km telp."(batinku nek gak mikir kebacut, lha koncoe sengsara kok)
Kiki : Oalah, oh ya, thnks atas mknanny. Tp hrusny jgn traktir gt. Snen ja..."(weleh minta traktir dy,, orang gw dah buntung!)
Kiki : "Kashan, yg sbar ya!"
Kiki : "1Th 1x ham." (sambil senyam-senyum)
Fardiana : "Eh ada yg punya wireless gak? wjib bles."(huhu,, tugas lagi)
Fardiana : "Iya. Boleh ta kalo pinjem skolah?"
Fardiana : "Eah.. Soalnya kmaren kan disuruh bwa."
Kiki : "Haha.. Udh lah udah wktny. sip apa?"
Kiki : "Mising textmu."
Kiki : " Klo mw tw yg gembosi sypa, tny sndri. :b"
Kiki : "Hehe, oalah. Gora td jg kget."
Kiki : " Ya. kaga tw klo gt."
DAN SELANJUTNYA.....
sms2 itu kehapus,, so..... cerita cuma sampai disini
Rabu, 13 April 2011
Langganan:
Postingan (Atom)