Total Tayangan Halaman

Minggu, 25 Desember 2011

Anak Tak Berdosa

by : A. Ilham Brilian Cendika

Anak tak berdosa,
diperoleh dari tangan-tangan durhaka.
Yang tiada lara memikirkan apa yang mereka lakukan..

Mereka terlahir suci dari surga ke dunia.
Tanpa setitik noda yang mengotorinya.

Namun bagaimana tindakan orang yang telah membuatnya.
Mereka seakan bagai syetan penghuni neraka,
yang tak pedulikan nasib individu yang terlahir dari darah daging mereka..

Kini,
meskipun ada orang yang mau menerimanya, mereka belum bisa tertawa dan tersenyum bahagia.
Tanpa makhluk yang telah membawanya terlahir ke dunia..

Bahkan itu semakin membuat mereka menangis..
Menangis penuh kurasan air mata..
Yang menggelegar, membelah dunia.
Dan kesedihan yang tiada tara..

Anak tak berdosa..
Siapakah yang tega melihat nasib ananda..
Dengan rintihan di muka dunia yang indah..
Tanpa sedikitpun kebahagiaan yang melanda..
Dan terlahir dengan goresan luka..
Hingga maut menyapa..

Jumat, 09 Desember 2011

CINTA

by : A. Ilham Brilian Cendika

CINTA..
Hanyalah sebuah goresan kecil, tetapi cukup bermakna..
Dan menjadikan hidup ini terasa lebih indah..

Cobalah kau rasakan akan kekuatan cinta itu sendiri..
Yang mampu mengalihkan pandanganmu, merubah pola pikirmu, mengalahkan semua hasrat, dan keinginanmu..

Cobalah kau bayangkan akan seseorang yang kau cintai dan seseorang yang mencintaimu..

Mampukah kau hidup tanpa dirinya?

Dan mampukah ia hidup seorang diri tanpa kehadiran dan sosokmu,
yang telah mengisi serta menghiasi hatinya?

Tetapi dibalik keindahan itu selalu ada sesuatu yang bisa merusak keindahan cinta itu sendiri..
Sebuah godaan yang berasal dari nafsu kita..
Timbul dari pengaruh sesosok makhluk busuk yang menyelinap kedalam hati kita..
Dan mampu merusak akan rasa cinta yang telah kita pelihara dan kita naungi sejak lama..

Sekarang,

Tahukah engkau akan sesuatu yang disebut cinta?

cinta

Hanyalah sebuah goresan kecil..
Tetapi cukup bermakna dan menjadikan hidup ini terasa lebih indah..

Sebuah rasa yang timbul dari hati akibat dorongan nafsu..
Dan, dapat berakhir karena nafsu..
Sebuah hal yang indah..
Dan tak akan kita ketahui seberapa lamakah ia akan bertahan..

Selasa, 30 Agustus 2011

HIDUP

by : A. Ilham Brilian Cendika

Hidup..
Hidup ini bagaikan butiran debu..
Yang tiada pernah statis di tempat..
Terbawa hembusan angin hingga tiada kendali..
Tiada sesuatu yang tak indah dalam kehidupan ini..
Meski semua itu tiada kekal abadi..
Marah, tersenyum, riang gembira, saling dicinta dan mencinta..
Yah, itu lah hidup..
Laksana air yang mengalir, terkadang hidup kita terombang ambing terbawa arus emosi..
Ketika dalam ujian, hidup terasa bagai putaran roda yang berada pada porosnya..
Terkadang ketika diatas, lupa akan bagian telapaknya..
Namun ketika dibawah, ia kan mencoba tuk menengadah, menghadap dan meratapi kepalanya..
Ada kalanya kita menangis sedih, ada kalanya kita tertawa bahagia..

Hidup tidaklah stagnan..
Sebab selalu ada godaan syetan yang mampu mengubah haluan..
Membuat mata tak dapat dijaga, lidah tak dapat dirasa, bahkan tangan pun tak dapat diamankan..
Itu semua ialah ujian untuk menguji seberapa besar kekuatan iman yang dilandasi kepercayaan akan adanya Tuhan..
Namun dibalik semua itu, pasti ada hikmahnya..
Yang tak luput dari diri kita..

Oleh karena itu, perkenankanlah kiranya saya meminta maaf atas perkataan yang tak terjaga, perlakuan yang tak terkendali, dan perasaan yang terpengaruh godaan syetan..
Agar hidup ini terasa lbh indah tnpa dosa dr kslhn2 yg tlah sya perbuat sblmny..
Supaya kelak nanti jika tiba masaQ. Q dpt melangkh ringan tnpa dosa yg bergelimang d pundakQ..
Amiin..

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN..

created by AIBC...

Kamis, 25 Agustus 2011

Bicara Tentang Mimpi

by : A. Ilham Brilian Cendika

Mimpi itu wajar..
Mimpi itu kan indah..
Tak ada salahnya kita bermimpi,
asal jangan bermimpi terus-terusan karena jika bermimpi terus-terusan berarti tidur terus, kalau tidurnya terus-terusan = DEATH..
Sebab tidur itu dianalogikan sebagai orang mati..

Senin, 04 Juli 2011

MASJID AGUNG SUMENEP (MASJID JAMI' SUMENEP)

Menghadap ke Taman Kota, yang berada di sebelah Timurnya. Dengan gerbang besar, pintu kayu kuno, yang berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid Agung Sumenep, yang dulu dikenal dengan nama Masjid Jami’, terletak ditengah-tengah Kota Sumenep.
Masjid ini dibangun setelah pembangunan Kraton Sumenep, sebagai inisiatif dari Adipati Sumenep, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar. Setelah sebelumnya dibangun masjid, yang dikenal dengan nama Masjid Laju, oleh Pangeran Anggadipa (Adipati Sumenep, 1626-1644 M). Dalam perkembangannya, masjid laju tidak mampu lagi menampung jemaah yang kian banyak.
Setelah keraton selesai pembangunannya, Pangeran Natakusuma I memerintahkan arsitek yang juga membangun keraton, Lauw Piango, untuk membangun Masjid Jami’. Berdasar catatan di buku Sejarah Sumenep (2003) diketahui, Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M).
Masjid Jami’ dimulai pembangunannya tahun 1198 H (1779 M) dan selesai pada tahun 1206 H (1787 M). Terhadap masjid ini Pangeran Natakusuma berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 M, bunyinya sebagai berikut;
“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”
Dari tinjauan arsitektural, memang banyak hal yang khas pada bangunan yang menjadi pusat kegiatan masyarakat Islam di kabupaten paling timur Pulau Garam ini. Memperhatikan fisik bangunan, layaknya menganut eklektisme kultur desain.
Masjid Jami’ Sumenep dari bentuk bangunannya bisa dikata merupakan penggabungan berbagai unsur budaya. Mungkin pula sebagai bentuk akomodasi dari budaya yang berkembang di masyarakatnya. Pada masa pembangunannya hidup berbaur berbagai etnis masyarakat yang saling memberikan pengaruh.
Yang menarik lagi, bukan hanya kolaborasi gaya arsitektur lokal. Tetapi lebih luas, yaitu antara arsitektur Arab, Persia, Jawa, India, dan Cina menjadi satu di bangunan yang istimewa ini. Mungkin pula berbagai etnis yang tinggal dan hidup di Madura lebih banyak lagi, sehingga membentuk struktur bangunan lengkap dengan ornamen yang menghias bangunan ini secara keseluruhan.
Kubah kecil di puncak bangunan yang ada di sudut kanan-kiri halaman masjid, sangat mungkin mewakili arsitektur Arab-Persia. Penerapannya tidak semata-mata, terdapat sejumlah modifikasi yang berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Ornamen yang kemudian dipertegas dengan warna-warna menyala, menggambarkan corak bangunan dari Gujarat-Cina. Semakin kental atmosfirnya ketika berada di bagian dalam bangunan utama. Memperhatikan mihrab masjid yang berusia 799 tahun ini, pada mimbar khotbah, hingga ornamen seperti keramik yang menghiasi dindingnya.
Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajuk juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat Jawa.
Struktur bangunan secara keseluruhan menggambarkan tatanan kehidupan masyarakat yang rumit di saat itu. Jalinan hubungan antaretnik yang hidup di Madura dapat disaksikan dari bangunan utuh dari sosok masjid Agung Sumenep ini.
Pada bagian depan, dengan pintu gerbang yang seperti gapura besar, beberapa orang berpendapat juga menampakkan adanya corak kebudayaan Portugis. Konon, masjid Agung Sumenep merupakan salah satu dari sepuluh masjid tertua di Indonesia dengan corak arsitektur yang khas.
Perkembangan Islam di tanah Jawa, pula menjadi bagian dinamika kehidupan masyarakat Madura. Perkembangan ajaran Islam di Pulau Madura, tak dapat dipisahkan dari perkembangan dan pergumulan masyarakat Jawa yang secara gegrafis terpisah dengan Selat Madura. Perkembangan Islam di Ampel dan Giri menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Madura. Pada jamannya, tugas dakwah yang diemban para wali meliputi seluruh daerah, termasuk Jawa dan Madura.
Dalam perkembangan Islam di Madura tak lepas dari para pedagang yang datang dari Gujarat (India) serta para perantau yang berasal dari jazirah Arab. Mereka yang berhasil mendarat di Madura juga memberi kontribusi akibat interaksi, baik budaya maupun tata kehidupan.
Model akulturasi budaya yang ada di masa silam, secara jelas masih bisa dinikmati sekarang. Yaitu dengan melihat kekayaan detil arsitektural yang ada di masjid Jami’ Sumenep. Walaupun pada sekitar tahun 90-an masjid ini mengalami pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya. Namun demikian tidak mengurangi eksotismenya hingga sekarang.-az alim
*Dimuat di Majalah Mossaik, Nopember 2005